MENJAWAB TANYA | Bagaimana Cara Mengatasi Kebuntuan Menulis ?


MENJAWAB TANYA | Bagaimana Cara Mengatasi Kebuntuan Menulis ?,-  Seorang penulis pemula mencoba menulis sebuah cerpen. Lalu, ia mencoba mengirimkannya ke sebuah majalah, dan ditolak. Ia perbaiki dan berusaha dikirimkan lagi ke sebuah kolom  budaya di sebuah koran juga, namun ditolak juga. Putus asa ? Tidak. Ia terus berusaha dengan intropeksi diri. Membaca kembali karyanya dan berulang kali memperbaikinya. Ia berikan karyanya kepada teman dan gurunya. Ia menanti dengan sabar hasil analisi, masukan, dan kritikan orang lain. ia perbaiki karya tulisnya berdasarkan masukan dan kritikan dari para pembaca hingga akhirnya yang pada awalnya tulisannya berupa cerpen, sekarang berubah menjadi sebuah novel, dan bahkan di eksranisasi menjadi sebuah film layar lebar. Ini adalah gambaran seorang penulis yang beberapa kali mengalami kekalahan, tetapi tidak pernah menyerah.


MENJAWAB TANYA | Bagaimana Cara Mengatasi Kebuntuan Menulis ?

Seorang penulis yang ingin tulisannya laku dipasaran tentunya ia harus terus berjuang melawan halangan dan rintangan, termasuk menghadapi kebuntuan dalam menulis. Suatu ketika seorang penulis sadar bahwa ia berada di titik jenuh saat menulis. Dan tentunya titik jenuh pasti selalu dialami oleh siapapun, baik itu penulis profesional sekalipun. Lalu bagaimana cara untuk menghilangkan efek jenuh tersebut dan melanjutkan kembali karya tulis yang terhenti. Berikut adalah cara-cara untuk mengembalikan kejenuhan yang melandan: 


1. Tinggalkan Tulisan

MENJAWAB TANYA | Bagaimana Cara Mengatasi Kebuntuan Menulis ?


Seorang penulis yang sudah tidak mampu lagi atau mengalami kebuntuan saat menulis , maka untuk beberapa saat, ia tinggalkan tulisannya. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan mood menulis yang telah sinar. Meninggalkan tulisan ini bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Kemudian setelah rasa jenuh itu hilang, ia membaca kembali hasil buah penanya seperti ia membaca tulisan orang lain. Sungguh tak mengira, melalui mata hatinya yang baru, ternyata ia sanggup melihat setiap kekurangan, celah dan kelebihan karyanya sehingga dengan semangat baru ia dapat memasukkan cerita baru, menghilangkan sebagian cerita lama yang ia anggap kuran gbaik atau kurang mendukung cerita.

2. Beralih Ke Media Lain

MENJAWAB TANYA | Bagaimana Cara Mengatasi Kebuntuan Menulis ?


Ada banyak media sebagai tempat kita menuangkan inspirasi, bisa lewat kertas, handphone ataupun PC. Seorang penulis pada umumnya membiasakan menulis ide, gagasan atau imajinasinya pada selembar kertas, dan ketika ia mengalami kebuntuan ia mencoba mengetiknya lewat komputer. Ada juga yang sebaliknya. Nah, ketika kita memindahkan tulisan ke media lain, secara otomatis otak kita akan merespon dan memunculkan ide-ide baru yang menjadikan tulisan kita lebih indah dan menarik, gagasan cemerlang berhamburan, imajinasi pun dapat berkembang lebih liar.

3. Pergi ke Sebuah Tempat

MENJAWAB TANYA | Bagaimana Cara Mengatasi Kebuntuan Menulis ?


Pengalaman penulis lain dalam mengatasi kebutunan menulis adalah dengan berjalan-jalan ketempat-tempat yang disukai. Taman kota misalnya. Ia nikmati setiap langkah pada taman itu, disana terlihat banyak orang-orang yang hanya duduk-duduk, melihat keriangan anak kecil, sepasang muda-mudi, suara deru angin, dan juga gemericik air mancur. Setelah ia berjalan-jalan cukup lama, datang waktu shalat zuhur. Ia cari mushola terdekat, tetapi ternyata sedang direnovasi. Ia bertanya di mana ia bisa salat kepada para pedagang yang berjualan di sekitaran taman. Mereka menunjuk pada bangunan yang sempit dan kotor, mungkin lebih tepat disebut gudang. Walau ragu, ia tetap berjalan menuju bangunan berukuran 4x3 meter itu. sesekali muncul setan dalam hatinya yang berbisik. “jangan salat, tempat itu kotor dan bau! Kembalilah jalan-jalan ke taman yang sejuk dan indah itu lagi!” ia berusaha menepisnya. Ia tetap meneruskan niatnya untuk salat . saat ia memasuki ruangan, a melihat sudah ada seorang wanita yang telah shalat lebih dulu. Ia kemudian mengambil air wudhu, dan melaksanakan salat disamping wanita itu.


Ceritanya sampai disitu. Namun, setelah ia kembali keruang tulisnya, dan ingin menulis kembali, ternyata daya imajinasinya berkembang dengan sangat pesat. Ia tulis kisah itu disalah satu segmen dalam cerita fiksinya. Bagaimana terdengar suara deru angin, kegembiraan orang-orang, berlariannya anak-anak disekitaran taman. Ia sisipkan pada sebuah karya yang tengah digarapnya. Dan ia juga menambahkan beberapa imajinasi lainnya sebagai penyedap bagi keindahan tulisannya.

“Seorang penulis yang ingin sukses harus berjuang melawan halangan dan rintangan, termasuk menghadapi kebuntuan dalam menulis” ,- 

Ninik M. Kuntarto.


Selesai, semoga bermanfaat. Semoga lain waktu bisa berbagi tips-tips lainnya.

0 Comments

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.