Antara Ilmu dan Cinta,- Bagian Kedua
Nasehat dari Sang Ayah
Ia teringat dengan pesan ayahnya di rumah sebelum berangkat menuntut ilmu, pesan-pesan yang masih terekam kuat dalam memori ingatannya. "Anakku, ketahuilah dalam perjalanmu menuntut ilmu nanti, kamu akan diuji dengan banyak hal, dengan kesusahan hidup, kesulitan biaya, lingkungan, kawan-kawan, dan lainnya. Teguhkanlah selalu niat di hatimu dan mintalah pertolongan pada Allah setiap waktu. Dan ingatlah, ujian terberat yang akan kamu hadapi nanti adalah wanita, maka berhati-hatilah menghadapinya. Jangan pernah engkau mengikuti ajakan nafsu yang menyesatkanmu."
"Anakku, berpacaran yang saat ini banyak digandrungi anak-anak muda adalah sikap laki-laki bermental lemah dan pecundang dan tipe wanita yang tak punya harga diri, tapi menjalin hubungan secara syar`i dan menikahi dengan cara-cara yang baik, itulah akhlak seorang laki-laki yang didamba dan sikap seorang wanita calon penghuni surga. Bila godaan itu terasa berat bagimu, berpuasapun tak sanggup mengobatimu, maka serahkanlah semuanya kepada Allah, niscaya Allah akan menggantikanmu dengan yang lebih baik."
"Anakku, jika kamu mengira berpacaran itu adalah jalan menuju pernikahan, maka engkau telah tertipu oleh nafsumu, engkau telah termakan bujuk rayu setan. Apakah engkau hendak memetik buah dari pohon sebelum waktunya?
Apakah engkau mau membeli barang yang telah usang dan pernah dipakai orang?"
"Anakku, janganlah engkau mengira pacaran yang ayah maksud hanyalah bertemu atau jalan berdua-duan semata. Akan tetapi jagalah matamu, pendengaranmu, hatimu dan pikiranmu. Janganlah engkau menjadi pemuda yang lemah. "
"Jika suatu saat nanti, dorongan untuk berpacaran begitu kuat dan menyesak di dadamu, ayah sarankan untuk berserah diri kepadaNYA, luapkan segala isi hatimu kepadaNya. Ayah sarankan, bersabarlah, bersabarlah, dan bersabarlah.....!!!
Sembari terus menjaga dan berdoa tiada henti padaNya. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan ketahuilah, orang-orang yang sabar akan mendapatkan pahala yang berlipat, dan orang-orang sabar akan memetik mutiara iman yang begitu banyak berkat kesabarannya. Dan yakinlah sesungguhnya bersama satu kesulitan ada begitu banyak kemudahan."
"Anakku, jangalah engkau tergoda oleh nafsumu, janganlah engkau tertipu dengan bisikan musuhmu, setan durjana. Mungkin Allah tengah mengujimu, dan menyiapkan untukmu hadiah yang terindah nanti. Maka selalu berbaik sangkalahpadaNya"
Nak, ingatlah ketika engkau telah menguasai banyak ilmu, dan engkau tidak menyerahkan keilmuaanmu itu kepadaNya, maka akan semakin mudah bagi syetan untuk menggodamu dengan ilmu yang engkau miliki. Syetan akan selalu berusaha menghias-hiasi ilmumu dengan tipu muslihatnya.
Sebagaimana telah banyak orang yang telah terpedaya olehnya, Seperti mengatasnamakan ta’aruf dengan pacaran. Janganlah engkau terpedaya olehnya dan jangan pula engkau mengikuti ajakan nafsumu. Ingatlah, engkau adalah pemimpin jangan sampai hawa nafsumu yang memimpinmu”
Nasehat-nasehat berharga dari ayahnya itu begitu mampu menjadi penawar bagi hatinya yang gelisah. Tapi, itu hanya bertahan sebentar, ledakan perasaannya pada wanita itu ternyata lebih dahsyat dan meluap-luap lagi. Pesan-pesan itu hanya bertahan sesaat, lalu ketika desakan perasaan itu kembali merasuki jiwanya, ia menjadi begitu rapuh dan lemah.
Sampai pada akhirnya, Ia pun menceritakan kembali kegelisahan hatinya, keresahan jiwanya, dan gejolak rasa yang selalu menyesak di dadanya. Pemuda itupun menceritakan kembali rasa yang selalu menggenggam jiwanya itu, ayahnyapun berpesan kembali :
Tetaplah bersabar nak dan jangan pernah engkau mengumbar rasa itu kepada ia yang belum tentu menjadi halal untukmu. Imam Asy-syuyuthi pernah mengatakan bahwasanya orang-orang yang memendam kerinduan baik laki-laki maupun perempuan dengan tetap menjaga kehormatan dirinya dan menyembunyikan kerinduannya terhadap yang dirindukannya, sebab dia tidak mampu untuk mendapatkan apa yang dirindukannya dan bersabar atasnya sampai ia meninggal karena kerinduan tersebut, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang mati syahid.
Begitupun dengan Iman Ath-Thahawi di dalam kitabnya Hasyiyah Marakil Falah yang menukil ucapan Imam Asy-Syuyuthi tadi. Bahwasanya termasuk golongan para syuhada di akhirat kelak ialah orang-orang yang mati di dalam kerinduan, dengan tetap menjaga kehormatan diri dan menyembunyikan kerinduannya itu dari orang-orang disekitarnya. Meskipun kerinduan itu timbul dari perkara yang haram, sebagaimana pembahasan dalam masalah cinta.
mungkin dalam hatimu engkau bertanya “bagaimana mungkin disebabkan karna perkara yang haram dapat mendapatkan pahala mati syahid...?”
Ketahuilah nak, engkau selalu merindukan wanita itu disetiap siang dan malammu, dan engkau tidak ingin jika kerinduanmu di ketahui orang lain. Engkau lebih memilih bersabar menanggung beban kerinduanmu terhadapnya daripada engkau harus memperturuti hawa nafsumu sehingga menyebabkanmu terjerumus kedalam ikatan yang tidak halal.
Engkau lebih memilih menjaga kehormatan dirimu dan menjaga kehormatan dirinya, dari pada mengikuti syahwat yang dapat menenggelamkanmu kedalam lembah penyesalan.
Itulah sebabnya orang-orang yang memendam kerinduan dari perkara yang haram mendapatkan pahala mati syahid, karna mereka berjuang melawan hawa nafsunya sendiri. Dan sesungguhnya berjuang melawan hawa nafsu sendiri itu lebih berat daripada melawan seluruh musuh yang berada di hadapannya. Mereka lebih baik menderita didunia daripada nanti diakhirat.
Ayah sarankan ketika engkau merindukannya, jagalah baik-baik kehormatanmu dan kehormatannya. Jangan pernah engkau menceritakan kerinduanmu terhadapnya dihadapan orang banyak. Karna hal itu hanya akan membuat kehormatan dan harga dirimu jatuh. Bukan hanya engkau, melainkan wanita itupun akan ikut jatuh disebab oleh tingkahmu.
"Anakku, ayah bisa memahami keadaanmu. ayah sarankan lakukanlah shalat istikharah, jika engkau menemukan ada tanda-tanda ke arah sana, maka lakukanlah shalat hajat sebanyak-banyaknya, in syaa Allah itu adalah jawaban yang terbaik bagimu dan bagi agamamu, mudah-mudahan dengan cara demikian Allah membuka jalan untukmu. Mintalah pada Allah dengan air mata penuh harap, menangislah sejadi-jadinya di hadapanNya. Yakinlah, Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.”
…. Bersambung …
Klik ---> Bagian Ketiga
Nasehat dari Sang Ayah
Ia teringat dengan pesan ayahnya di rumah sebelum berangkat menuntut ilmu, pesan-pesan yang masih terekam kuat dalam memori ingatannya. "Anakku, ketahuilah dalam perjalanmu menuntut ilmu nanti, kamu akan diuji dengan banyak hal, dengan kesusahan hidup, kesulitan biaya, lingkungan, kawan-kawan, dan lainnya. Teguhkanlah selalu niat di hatimu dan mintalah pertolongan pada Allah setiap waktu. Dan ingatlah, ujian terberat yang akan kamu hadapi nanti adalah wanita, maka berhati-hatilah menghadapinya. Jangan pernah engkau mengikuti ajakan nafsu yang menyesatkanmu."
"Anakku, berpacaran yang saat ini banyak digandrungi anak-anak muda adalah sikap laki-laki bermental lemah dan pecundang dan tipe wanita yang tak punya harga diri, tapi menjalin hubungan secara syar`i dan menikahi dengan cara-cara yang baik, itulah akhlak seorang laki-laki yang didamba dan sikap seorang wanita calon penghuni surga. Bila godaan itu terasa berat bagimu, berpuasapun tak sanggup mengobatimu, maka serahkanlah semuanya kepada Allah, niscaya Allah akan menggantikanmu dengan yang lebih baik."
"Anakku, jika kamu mengira berpacaran itu adalah jalan menuju pernikahan, maka engkau telah tertipu oleh nafsumu, engkau telah termakan bujuk rayu setan. Apakah engkau hendak memetik buah dari pohon sebelum waktunya?
Apakah engkau mau membeli barang yang telah usang dan pernah dipakai orang?"
"Anakku, janganlah engkau mengira pacaran yang ayah maksud hanyalah bertemu atau jalan berdua-duan semata. Akan tetapi jagalah matamu, pendengaranmu, hatimu dan pikiranmu. Janganlah engkau menjadi pemuda yang lemah. "
"Jika suatu saat nanti, dorongan untuk berpacaran begitu kuat dan menyesak di dadamu, ayah sarankan untuk berserah diri kepadaNYA, luapkan segala isi hatimu kepadaNya. Ayah sarankan, bersabarlah, bersabarlah, dan bersabarlah.....!!!
Sembari terus menjaga dan berdoa tiada henti padaNya. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan ketahuilah, orang-orang yang sabar akan mendapatkan pahala yang berlipat, dan orang-orang sabar akan memetik mutiara iman yang begitu banyak berkat kesabarannya. Dan yakinlah sesungguhnya bersama satu kesulitan ada begitu banyak kemudahan."
"Anakku, jangalah engkau tergoda oleh nafsumu, janganlah engkau tertipu dengan bisikan musuhmu, setan durjana. Mungkin Allah tengah mengujimu, dan menyiapkan untukmu hadiah yang terindah nanti. Maka selalu berbaik sangkalahpadaNya"
Nak, ingatlah ketika engkau telah menguasai banyak ilmu, dan engkau tidak menyerahkan keilmuaanmu itu kepadaNya, maka akan semakin mudah bagi syetan untuk menggodamu dengan ilmu yang engkau miliki. Syetan akan selalu berusaha menghias-hiasi ilmumu dengan tipu muslihatnya.
Sebagaimana telah banyak orang yang telah terpedaya olehnya, Seperti mengatasnamakan ta’aruf dengan pacaran. Janganlah engkau terpedaya olehnya dan jangan pula engkau mengikuti ajakan nafsumu. Ingatlah, engkau adalah pemimpin jangan sampai hawa nafsumu yang memimpinmu”
Nasehat-nasehat berharga dari ayahnya itu begitu mampu menjadi penawar bagi hatinya yang gelisah. Tapi, itu hanya bertahan sebentar, ledakan perasaannya pada wanita itu ternyata lebih dahsyat dan meluap-luap lagi. Pesan-pesan itu hanya bertahan sesaat, lalu ketika desakan perasaan itu kembali merasuki jiwanya, ia menjadi begitu rapuh dan lemah.
Sampai pada akhirnya, Ia pun menceritakan kembali kegelisahan hatinya, keresahan jiwanya, dan gejolak rasa yang selalu menyesak di dadanya. Pemuda itupun menceritakan kembali rasa yang selalu menggenggam jiwanya itu, ayahnyapun berpesan kembali :
Tetaplah bersabar nak dan jangan pernah engkau mengumbar rasa itu kepada ia yang belum tentu menjadi halal untukmu. Imam Asy-syuyuthi pernah mengatakan bahwasanya orang-orang yang memendam kerinduan baik laki-laki maupun perempuan dengan tetap menjaga kehormatan dirinya dan menyembunyikan kerinduannya terhadap yang dirindukannya, sebab dia tidak mampu untuk mendapatkan apa yang dirindukannya dan bersabar atasnya sampai ia meninggal karena kerinduan tersebut, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang mati syahid.
Begitupun dengan Iman Ath-Thahawi di dalam kitabnya Hasyiyah Marakil Falah yang menukil ucapan Imam Asy-Syuyuthi tadi. Bahwasanya termasuk golongan para syuhada di akhirat kelak ialah orang-orang yang mati di dalam kerinduan, dengan tetap menjaga kehormatan diri dan menyembunyikan kerinduannya itu dari orang-orang disekitarnya. Meskipun kerinduan itu timbul dari perkara yang haram, sebagaimana pembahasan dalam masalah cinta.
mungkin dalam hatimu engkau bertanya “bagaimana mungkin disebabkan karna perkara yang haram dapat mendapatkan pahala mati syahid...?”
Ketahuilah nak, engkau selalu merindukan wanita itu disetiap siang dan malammu, dan engkau tidak ingin jika kerinduanmu di ketahui orang lain. Engkau lebih memilih bersabar menanggung beban kerinduanmu terhadapnya daripada engkau harus memperturuti hawa nafsumu sehingga menyebabkanmu terjerumus kedalam ikatan yang tidak halal.
Engkau lebih memilih menjaga kehormatan dirimu dan menjaga kehormatan dirinya, dari pada mengikuti syahwat yang dapat menenggelamkanmu kedalam lembah penyesalan.
Itulah sebabnya orang-orang yang memendam kerinduan dari perkara yang haram mendapatkan pahala mati syahid, karna mereka berjuang melawan hawa nafsunya sendiri. Dan sesungguhnya berjuang melawan hawa nafsu sendiri itu lebih berat daripada melawan seluruh musuh yang berada di hadapannya. Mereka lebih baik menderita didunia daripada nanti diakhirat.
Ayah sarankan ketika engkau merindukannya, jagalah baik-baik kehormatanmu dan kehormatannya. Jangan pernah engkau menceritakan kerinduanmu terhadapnya dihadapan orang banyak. Karna hal itu hanya akan membuat kehormatan dan harga dirimu jatuh. Bukan hanya engkau, melainkan wanita itupun akan ikut jatuh disebab oleh tingkahmu.
"Anakku, ayah bisa memahami keadaanmu. ayah sarankan lakukanlah shalat istikharah, jika engkau menemukan ada tanda-tanda ke arah sana, maka lakukanlah shalat hajat sebanyak-banyaknya, in syaa Allah itu adalah jawaban yang terbaik bagimu dan bagi agamamu, mudah-mudahan dengan cara demikian Allah membuka jalan untukmu. Mintalah pada Allah dengan air mata penuh harap, menangislah sejadi-jadinya di hadapanNya. Yakinlah, Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.”
…. Bersambung …
Klik ---> Bagian Ketiga

0 Comments
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.