Cerpen Antara Ilmu dan Cinta,- Bagian Pertama:
Di tempat rantauannya, seorang pemuda yang tak memiliki sanak saudara seorangpun hidup dalam kesendirian. Ia rela meninggalkan tempat tinggalnya hanya demi satu tujuan mulya, ia rela meninggalkan keluarganya hanya demi tugas suci dan ia rela menghabiskan masa remajanya untuk memperdalam keilmuannya.
Namun, seiring berjalannya waktu pahit getir kehidupanpun terus menerus menghimpit jiwanya. Takkan selamanya langit biru, takkan selamanya pelangi kan menghiasi bumi.Bagitupun dengan jalur kehidupannya, Ketika sebuah cinta hadir manyapa, ia tak mampu menolaknya, ia juga tak mampu untuk menerima kehadirannya.
Hingga akhirnya ia tak kuasa lagi untuk menanggung beban cinta yang sangat berat tersebut. Semakin ia memendamnya, semakin kuat pula ikatan itu mengikat hatinya. Hari-hari yang di lalui senantiasa terhiasi oleh rasa rindu yang tak mampu ia pikul, siang dan malamnya ia habiskan untuk berusaha menguatkan dirinya yang terlemahkan oleh gelombang cinta yang selalu menerpa hatinya.
Pemuda itu terus menerus menangis tersedu-sedu di samping mihrab masjid, mushaf ia dekap erat-kuat ke dadanya. Sesekali ia me-lap air matanya yang meleleh. Ia merasa begitu rapuh dan lemah, begitu tak berdaya menghadapi seorang wanita. Ia telah terpesona pada seorang akhwat sekuliahannya. Senyuman wanita itu bagai purnama di gelap gulita, suara wanita itu laksana nyanyian bidadari yang merasuk ke pori-pori jiwanya.
Ia menangisi dirinya yang tak bisa lagi merasakan nikmatnya berdzikir, menangisi hatinya yang tak bisa lagi khusyuk dalam shalat, menangisi pikirannya yang selalu membawanya terbang ke wanita itu dan menangisi hafalannya yang perlahan menghilang. Sungguh hebat deritanya. Dulu ia begitu kokoh dan teguh, orang-orang menganggapnya seorang laki-laki yang punya prinsip dan berkarakter. Apalagi saat orang-orang tahu bahwa dia begitu mampu menjaga hubungan dengan wanita dan tak pernah memasukkan seseorangpun yang tak halalpun kedalam hatinya.
Itu dulu, namun kini ia begitu tak berdaya dan rapuh. Wanita itu betul-betul telah membuatnya terpikat. Seorang wanita yang dalam pandangannya begitu anggun dan sempurna. Cantik, manis, cerdas, sopan, lembut dan lain-lainya. Seorang wanita yang menurutnya layak dijadikan pasangan hidup menuju surga, seorang wanita yang semua kriteria calon istri dambaan ia temukan pada dirinya.
Hampir tiap malam ia menangis. Jika dulu ia menangis di kegelapan malam karena dimabuk rindu pada Sang Pencipta,namun kini ia menangis karena dimabuk rindu pada makhluk-Nya.
Apakah Allah tengah menguji dirinya. Apakah Allah tengah menguji kejujuran cintanya. ?
Ataukah memang sudah waktunya ia menikah... ?
“Ilmu dan cinta keduanya bagaikan Timur dan Barat, jika engkau mendekat kepada salah satunya niscaya engkau akan menjauh dari salah satunya”
Namun, seiring berjalannya waktu pahit getir kehidupanpun terus menerus menghimpit jiwanya. Takkan selamanya langit biru, takkan selamanya pelangi kan menghiasi bumi.Bagitupun dengan jalur kehidupannya, Ketika sebuah cinta hadir manyapa, ia tak mampu menolaknya, ia juga tak mampu untuk menerima kehadirannya.
Hingga akhirnya ia tak kuasa lagi untuk menanggung beban cinta yang sangat berat tersebut. Semakin ia memendamnya, semakin kuat pula ikatan itu mengikat hatinya. Hari-hari yang di lalui senantiasa terhiasi oleh rasa rindu yang tak mampu ia pikul, siang dan malamnya ia habiskan untuk berusaha menguatkan dirinya yang terlemahkan oleh gelombang cinta yang selalu menerpa hatinya.
Pemuda itu terus menerus menangis tersedu-sedu di samping mihrab masjid, mushaf ia dekap erat-kuat ke dadanya. Sesekali ia me-lap air matanya yang meleleh. Ia merasa begitu rapuh dan lemah, begitu tak berdaya menghadapi seorang wanita. Ia telah terpesona pada seorang akhwat sekuliahannya. Senyuman wanita itu bagai purnama di gelap gulita, suara wanita itu laksana nyanyian bidadari yang merasuk ke pori-pori jiwanya.
Ia menangisi dirinya yang tak bisa lagi merasakan nikmatnya berdzikir, menangisi hatinya yang tak bisa lagi khusyuk dalam shalat, menangisi pikirannya yang selalu membawanya terbang ke wanita itu dan menangisi hafalannya yang perlahan menghilang. Sungguh hebat deritanya. Dulu ia begitu kokoh dan teguh, orang-orang menganggapnya seorang laki-laki yang punya prinsip dan berkarakter. Apalagi saat orang-orang tahu bahwa dia begitu mampu menjaga hubungan dengan wanita dan tak pernah memasukkan seseorangpun yang tak halalpun kedalam hatinya.
Itu dulu, namun kini ia begitu tak berdaya dan rapuh. Wanita itu betul-betul telah membuatnya terpikat. Seorang wanita yang dalam pandangannya begitu anggun dan sempurna. Cantik, manis, cerdas, sopan, lembut dan lain-lainya. Seorang wanita yang menurutnya layak dijadikan pasangan hidup menuju surga, seorang wanita yang semua kriteria calon istri dambaan ia temukan pada dirinya.
Hampir tiap malam ia menangis. Jika dulu ia menangis di kegelapan malam karena dimabuk rindu pada Sang Pencipta,namun kini ia menangis karena dimabuk rindu pada makhluk-Nya.
Apakah Allah tengah menguji dirinya. Apakah Allah tengah menguji kejujuran cintanya. ?
Ataukah memang sudah waktunya ia menikah... ?

0 Comments
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.