Antara Ilmu dan Cinta,- Bagian Keempat
Surat untuk sang mawar
Bertahun-tahun sudah terlewat, dengan terhiasi kesabaran dan ketawakkanlannya kepada Dzat sang pemilik cinta. Rasa cinta dan rindu yang terus terpupuk dalam hati, yang tak mampu untuk terungkapkan karna rasa takut kepada Rabbnya dan sebuah cinta suci yang tak ingin tertetesi setetes nafsupun. Pemuda itupun terus bersabar sampai ia hampir menyelesaikan studynya dengan rasa cinta yang terus tertanam dalam jiwa.
Bertahun-tahun sudah terlewat, dengan terhiasi kesabaran dan ketawakkanlannya kepada Dzat sang pemilik cinta. Rasa cinta dan rindu yang terus terpupuk dalam hati, yang tak mampu untuk terungkapkan karna rasa takut kepada Rabbnya dan sebuah cinta suci yang tak ingin tertetesi setetes nafsupun. Pemuda itupun terus bersabar sampai ia hampir menyelesaikan studynya dengan rasa cinta yang terus tertanam dalam jiwa.
Dengan niat karna Allah dan untuk mengikuti sunnah Rasulullah saw, iapun memberanikan diri untuk menyampaikan niat sucinya, untuk menyempurnakan setengah agamanya bersama wanita yang bertahun-tahun ia impikan untuk dapat hidup bersama.
Di iringi dengan lafadz basmallah dan hati yang penuh ketawakkalan padaNya, ia layangkan harapan suci itu bersama selembar surat yang menghantarkan kegundahan hatinya. Ia berikan sebuah goresan surat melalui temannya yang tidak lain merupakan sahabat gadis itu.
Bismillaahirrahmaanirrahii
Assalamu ‘alaikum warahmatullah wa barakatuh
Sebelumnya aku mohon maaf atas kelancanganku menulis rangkaian huruf ini, tidak lain karna rasa maluku terhadapmu. Mudah-mudahan kelancangan ku ini bukanlah hal yang melanggar syar’i... aamiin
de, bertahun-tahun sudah aku hanya mengagumimu dalam diam, merangkai cinta dan rindu terhadapmu yang hanya bisa ku tautkan dalam setiap sujud panjangku di sepertiga malam terakhirNya...
Terkadang di tengah lelahnya hati ini menanti janji Allah itu tiba, harus ada air mata yang menjadi penawar hati ketika kerinduan terhadapmu semakin menyesakkan dada.
Maafkan aku sekiranya goresan tinta ini mengganggu ketentraman hatimu, meruntuhkan keimananmu dan membuat lalai hatimu
Untukmu, insan yang ku cinta karna kecintaanmu kepadaNya...
Maafkan aku jika kata-kata ini tak menjadi mata air yang jernih di taman hatimu,
Tapi justru kata-kata ini malah menjadi percikan api yang setiap saat dapat membakar hatimu...
Wahai insan yang telah menumbuhkan taman berbunga di hatiku,
Maafkan aku jika ungkapan perasaanku ini tak membuat bunga-bunga di taman hatimu merekah indah,
Tapi justru ungkapan perasaan ini malah membuat bunga itu layu sebelum mekar...
Menjadikan duri mawar yang tajam itu tumpul seketika ...
Maafkan aku... maafkan aku...
Di saat hatimu tenang, justru aku malah merusaknya
Kau bingkai kedekatanmu bersamaNya, tapi aku malah menjauhkannya
Kau berikan cawan kerinduanmu padaNya, tapi aku malah menumpahkannya...
Aku hanya ingin memastikan bahwa tidak ada ikhwan lain yang sedang berta’aruf denganmu atau bahkan telah mengkhitbahmu. Setelah meyakini diri dengan istikharah cintaku atasmu, ku tuliskan kata-kata ini agar aku tak selalu terpenjara oleh kebodohan rasa yang terus bersemayam selama bertahun-tahun.
Tulisan ini tak lain atas niat suci yang terlalu besar hingga aku tak mampu memikulnya terlalu lama dalam kesendirianku. Berawal dari niat suci ini, hingga tak ingin jika sampai terkotori oleh kesalahanku yang bodoh ini, dan ingin ku akhiri dengan kesucian hati yang tak ternodai oleh setetes nafsupun.
Empat tahun sudah aku mengenalmu, selama itu pula hati ini selalu mengharapkanmu untuk menjadi bagian dalam hidupku, menjadi ma’mum dalam setiap shalatku, menjadi bidadari dalam hidupku dan menjadi madrasah pertama bagi malaikat-malaikat kecilku nanti.
Berusaha untuk membangun bahtera bersamadan menjadikan rumah kita surga sebelum surga sesungguhnya.
Tiada banyak kata yang sempat terucap ataupun air mata tuk lepaskan kerinduan, karna aku tak ingin rasa yang belum pantas terucap ini, terungkapkan sepenuhnya kepadamu yang belum halal bagiku atau mungkin takkan pernah menjadi halal bagiku. Aku hanya ingin mengutarakan :
“De, bersediakah engkau menjadi kekasih dunia dan akhiratku, sehingga meringankan bebanku ketika aku menghadapNya di hari perhitungan kelak ...?”
Tak perlu tergesah-gesah untuk menjawabnya, karna sesungguhnya ketergesahan itu datangnya dari syetan. Istikharahlah dulu, meminta petunjuk dari Dzat sang pemilik cinta karna sesungguhnya jawaban dariNya merupakan yang terbaik bagi setiap hambaNya.
Maaf tak terkira ku sampaikan atas kelancangan dan kebodohanku yang tertulis dalam putihnya harapan ini.
...... Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh .......
Bersambung…

0 Comments
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.