Antara Ilmu dan Cinta,- Bagian keenam
Balasan Surat dari Sang Mawar
Seminggu telah berlalu, gadis itupun berbicara kepada kedua orangtuanya
“abi-ummi, dinda minta maaf sekiranya dinda berkata yang bukan-bukan. Tentang perasaan yang saat ini tengah dinda rasa. Alhamdulillah, setelah melakukan istikharah, in syaa Allah ini merupakan jawaban dariNya bahwa hati dinda telah yakin sepenuhnya untuk menerima ia sebagai suami dinda”
Rasa haru dan bahagia membuatnya menitikkan air mata...
Abi : “ dinda, jika itu yang tengah kamu rasakan saat ini, bahwa ia yang telah Allah kirimkan untukmu. Segeralah balas surat itu, agar engkau dan dirinya takkan terasa terbebani oleh sebuah perasaan”
“ in syaa Allah abi, dinda akan segera membalas surat darinya ”
Ia pun memberanikan diri untuk membalas surat cinta dari pemuda itu...
Bismillahirrahmaanirrahiim ..
Wa ‘alaikum salam warahmatullah wabarakaatuh...
Akhi, ketika rangkaian hurufmu terlontarkan atasku, ketika sebuah pengharapan sucimu kau ajukan kepadaku. Betapa ku sangat bersyukur menerima kehadiran seorang insan yang hatinya selalu terpaut padaNya, yang hari-harinya senantiasa di isi dengan ilmu dan muraqabah.
Dalam pelataran cinta dan harapan ini telah ku serahkan hati ini padaNya, telah ku serahkan jiwa ini hanya untuk menerima seorang insan yang mencintaiNya dan telah ku semikan penantian suci ini dalam setiap alunan tasbih dan rinduku padaNya.
Namun ada sedikit kegundahan dan kekhawatiran dalam hati ini ketika engkau mengungkapkan lafadz-lafadz kepadaku, seorang insan yang belum halal untukmu. Aku takut disaat engkau mengungkapkannya, hal itu justru akan membuat murka Allah, yang akan melemparkan kita kedalam lembah nerakaNya... na’udzubillahi min dzaalik
Aku selalu berusaha menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia, menjadi seorang insan yang di cemburui para bidadari surga, menjadi setangkai mawar yang senantiasa terjaga oleh duri dan menjadi sebutir mutiara yang senantiasa berada dalam kerang di tengah luasnya samudra.
Akhi, jika engkau menghendakiku untuk menjadi bagian dalam hidupmu, menjadi penyemangat dalam dakwahmu, menjadi pelebur dalam setiap resah dan dukamu dan menjadi bidadari bagi dunia dan akhiratmu. Temuilah kedua orangtuaku untuk meminta restu untuk meminangku.
In syaa Allah hati ini akan selalu ku jaga, yang hanya akan terisi bagi ia yang telah melafadzkan lafadz sakinah di hadapan wali dan saksi yang di iringi doa restu dari orang-orang tercinta.
....Akhi, aku menunggumu di depan gerbang kehalalan....
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
…. Bersambung ….
Balasan Surat dari Sang Mawar
Seminggu telah berlalu, gadis itupun berbicara kepada kedua orangtuanya
“abi-ummi, dinda minta maaf sekiranya dinda berkata yang bukan-bukan. Tentang perasaan yang saat ini tengah dinda rasa. Alhamdulillah, setelah melakukan istikharah, in syaa Allah ini merupakan jawaban dariNya bahwa hati dinda telah yakin sepenuhnya untuk menerima ia sebagai suami dinda”
Rasa haru dan bahagia membuatnya menitikkan air mata...
Abi : “ dinda, jika itu yang tengah kamu rasakan saat ini, bahwa ia yang telah Allah kirimkan untukmu. Segeralah balas surat itu, agar engkau dan dirinya takkan terasa terbebani oleh sebuah perasaan”
“ in syaa Allah abi, dinda akan segera membalas surat darinya ”
Ia pun memberanikan diri untuk membalas surat cinta dari pemuda itu...
Bismillahirrahmaanirrahiim
Wa ‘alaikum salam warahmatullah wabarakaatuh...
Akhi, ketika rangkaian hurufmu terlontarkan atasku, ketika sebuah pengharapan sucimu kau ajukan kepadaku. Betapa ku sangat bersyukur menerima kehadiran seorang insan yang hatinya selalu terpaut padaNya, yang hari-harinya senantiasa di isi dengan ilmu dan muraqabah.
Dalam pelataran cinta dan harapan ini telah ku serahkan hati ini padaNya, telah ku serahkan jiwa ini hanya untuk menerima seorang insan yang mencintaiNya dan telah ku semikan penantian suci ini dalam setiap alunan tasbih dan rinduku padaNya.
Namun ada sedikit kegundahan dan kekhawatiran dalam hati ini ketika engkau mengungkapkan lafadz-lafadz kepadaku, seorang insan yang belum halal untukmu. Aku takut disaat engkau mengungkapkannya, hal itu justru akan membuat murka Allah, yang akan melemparkan kita kedalam lembah nerakaNya... na’udzubillahi min dzaalik
Aku selalu berusaha menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia, menjadi seorang insan yang di cemburui para bidadari surga, menjadi setangkai mawar yang senantiasa terjaga oleh duri dan menjadi sebutir mutiara yang senantiasa berada dalam kerang di tengah luasnya samudra.
Akhi, jika engkau menghendakiku untuk menjadi bagian dalam hidupmu, menjadi penyemangat dalam dakwahmu, menjadi pelebur dalam setiap resah dan dukamu dan menjadi bidadari bagi dunia dan akhiratmu. Temuilah kedua orangtuaku untuk meminta restu untuk meminangku.
In syaa Allah hati ini akan selalu ku jaga, yang hanya akan terisi bagi ia yang telah melafadzkan lafadz sakinah di hadapan wali dan saksi yang di iringi doa restu dari orang-orang tercinta.
....Akhi, aku menunggumu di depan gerbang kehalalan....
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
…. Bersambung ….

0 Comments
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.