Apakah Logika Diperlukan Ketika Menulis Novel atau Karya Fiksi ?


APAKAH LOGIKA DIPERLUKAN KETIKA MENULIS NOVEL ATAU KARYA FlKSl ?,- Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa karya fiksi adalah karya yang lahir dari imajinasi penulis saja. sebagaimana yang telah kita ketahui bahwasanya imajinasi seseorang sangat tidak terbatas. ia dapat memunculkan apapun sesuai dengan apa yang kehendaki pemiliknya. lalu yang menjadi pertanyaan, perlukan logika dipakai ketika sedang menulis karya fiksi yang kental dengan berbagai imajinasi ? Coba kita baca sebuah kalimat berikut:

MENJAWAB TANYA | Apakah Logika Diperlukan Ketika Menulis Karya Fiksi ?

“Sore ini. Jakarta mendung. Tiba-tiba salju turun dengan indahnya."  Hmm... apakah di Jakarta atau di lndonesia dikenal musim salju ? Tentu tidak masuk akal. Logika bercerita tentu sangat diperlukan. Imajinasi memang dibutuhkan dalam menulis karya fiksi tetapi tetap taharus dibatasi dan patuh pada pagar akal dan pikiran, kecuali cerita yang kita kembangkan bersifat futuristik atau dongeng. Oleh karena itulah, ketika menulis karya fiksi, pengalaman, pengamatan, dan penelitian pada objek yang akan kita narasikan ke dalam cerita sangat dibutuhkan. Hasil pengalaman, pengamatan, dan penelitian akan memperkaya karya fiksi kita. Tidak hanya sekadar cerita yang kita tampilkan di dalam karya fiksi yang ditulis, tetapi juga ilmu pengetahuan yang akan bermanfaat bagi pembaca.


Seorang penulis cerpen mengaku bahwa suatu hari ia membaca majalah di tengah kemacetan Jakarta. Selama perjalanan itulah ia membaca artikel tentang pernikahan di Dusun Rampasasa yang unik. Seluruh penduduk melakukan kawin tungku atau kawin sesaudara sedarah sehingga menghasilkan keturunan kate. Tinggi maksimal 140 cm. Kemudian, imajinasi penulis itu berkembang. la membayangkan menjadi salah satu anak penduduk Dusun Rampasasa dan bercita-cita memiliki tubuh yang lebih tinggi dari kedua orang tuanya. Ia juga memiliki cita-cita menjadi seorang guru yang ingin memajukan taraf pendidikan dusun tempat ia dilahirkan.


Apakah kita bisa menulis cerita dengan latar tempat yang belum pernah kita kunjungi ? Tentu bisa. Salahsatunya adalah cerita tadi. Kita bisa mencari informasi dari berbagai sumber tentang suatu tempat yang akan kita lukiskan. Namun hati-hati, jangan samapi kita keliru menuliskan tempat tersebut. Misalnya diceritakan suatu hari tokoh fiksi yang sedang kita buat pergi ke Tasikmalaya dengan menaiki pesawat dan landing dibandara Singaparna. Nah, hal ini jelas keliru, karena di Tasikmalaya tidak ada satupun bandara. Disinilah diperlukan informasi yang benar tentang hal tersebut.

Selain itu, logika berceita juga tampat terlihat dari kekonsistenan penulis dalam bercerita. Misalkan pada bagian pertama menuliskan sahabat karib Khudory (salah satu tokoh fiksi) bernama Fahmi dan Abay, kemudian dibagian lain kalau sahabat karib Khudory itu Fahmi dan Indra. Jadi mana yang benar ? oleh karena itu kekonsistenan nama, alur, tempat kerja, atau yang lain harus sesuai antara cerita dibagian pertama dengan bagian-bagian selanjutnya


Selain itu juga, misalkan kita menuliskan pengalaman pribadi kita bertemakan perpisihan dengan seorang kekasih sebagai karya fiksi kemudian kita ganti nama tokohnya. Nah, tokoh kedua yang menjadi pasangan kita lalu ia pergi meninggalkan kita, jangan sampai kita tuliskan bahwa sifatnya sangat egois, pemarah dan tidak berperasaan. Karena menuliskan sifat orang lain yang telah melukai hati kita dalam sebuah karya fiksi, hal itu sangat dilarang.



"Imajinasi boleh liar, akan tetapi akal sehat dan hati nurani harus tetap jalan"

Ricky El-Faqru,-