“Laki-laki dan perempuan laksana dua sayap dari seekor burung. Jika kedua sayapnya sama-sama kuat, maka terbanglah burung itu setinggi-tingginya. Namun jika salahsatunya patah, maka ia tidak dapat terbang sama sekali”
(Ir. Soekarno)
Lagi... Untuk kesekian kali penaku selalu ingin bercerita tentang kekagumannya terhadapmu.
Dewasamu, salahsatu yang membuat jemari ini tak henti untuk menuliskannya.
Tentang usahamu untuk membahagiakan orangtuamu,
Tentang cita-cita yang harus kamu tangguhkan,
Tentang keinginan pribadimu yang harus di nomor sekiankan.
Demi satu harapan; menjadi seorang anak yang berbakti kepada orangtuanya
Itu, sebait paraghraf yang ku maknai dari percakapan kita kemarin.
Tentang ungkapan yang terlahir dari kecintaan seorang anak kepada ibundanya.
Dari sana aku belajar, dan darimu aku mengerti.
Hatimu mengatakan,
Tentang bagaimana engkau ingin mendapatkan ridhonya
Tentang bagaimana engkau ingin menjadi pelita terbaiknya
Tentang bagaimana engkau ingin menjadi salahsatu putri kebanggaannya.
Aku memahaminya, tentang usaha dan harapanmu untuk membuat ibundamu bahagia.
Betapa bangganya orangtua yang mempunyai anak sepertimu dik.
Ku doakan semoga usaha dan harapanmu itu Allah kabulkan,
Serta ridho-Nya pun ikut serta menemani setiap langkahmu.. aamiin
Pada paraghraf terakhir...
Tentang kebingunganmu,
Tentang rasa malumu,
Dan tentang ketidak-inginanmu membuatku
menyesal di kemudian hari karena latar yang berbeda.
Tidak, itu tidak benar dik.
Aku tidak pernah mempermasalahkan itu semua. Bagiku, hal yang paling mendasar adalah penerimaan.
Sejak setahun lalu, saat ku putuskan hati untuk menetapkanmu ketetapan terindah-Nya, sejak saat itu pula aku pun sudah siap dengan seluruh penerimaan yang ada.
Aku menerima kelebihanmu,
Aku menerima kekuranganmu,
Aku menerima seluruh baik dan burukmu,
Dan aku pun menerima segala hal yang berkaitan denganmu, apapun itu.
Karena bagiku, menggenap bukan hanya sebatas menerima kekurangan dan kelebihan pasangan kita, tapi kita juga harus memperluas ruang penerimaan kita, yaitu kepada orangtua pasangan kita yang harus kita anggap, kita muliakan dan kita hormati sebagai orangtua kita sendiri. Meskipun kita terlahir dari keluarga dalam latar profesi yang beda.
Aku menerimanya, apa dan bagaimanapun latar keluargamu. Apalagi saat ku tahu bahwa profesi orangtuamu memberi manfaat bagi orang lain dan yang lebih membahagiakan lagi saat dimana orangtuamu mengamanahkan untuk menyambungkan tali estafetnya kepadamu. “Alhamdulillah”, akupun turut bahagia karena diantara anak-anaknya kamulah yang beliau percaya untuk melanjutkan tugasnya.
Harapku,
Jika ada ikhtiar bersama untuk melanjutkan dan Diapun mengizinkan.
Kita sama-sama untuk memulainya dari bawah, aku dengan cita-citaku untuk tetap menuangkan setiap insprasi yang Dia berikan melaluimu sebagai perantara-Nya, dan kamu pun meneruskan amanah yang diberikan ibundamu atau apapun yang kamu inginkan.
Bagiku, tak apa kita menempuh jalur profesi yang berbeda
yang terpenting adalah kita sama-sama...
Kita sama-sama saling memberi manfaat pada orang lain,
Kita sama-sama memberi yang terbaik satu sama lain,
Kita sama-sama menuju bahagia bersama
Dan menggapai ridlo bersama.
Karena Bersamamu, Surga Lebih Dekat dan Keridhoan-Nya Terasa Mudah Diraih ^_^
____________________________________
Tasikmalaya, Jum’at 06 Oktober 2017, 04. 15

0 Comments
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.